Produsen otomotif Jepang Nissan dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan strategis dengan perusahaan layanan transportasi digital Uber untuk menghadirkan layanan ride-hailing berbasis kendaraan otonom di berbagai negara.
Menurut laporan media bisnis Asia, kerja sama tersebut juga melibatkan startup teknologi asal Inggris, Wayve Technologies, yang fokus mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk kendaraan tanpa pengemudi.
Ketiga perusahaan saat ini tengah mengembangkan teknologi kendaraan otonom generasi baru yang ditargetkan mulai digunakan pada armada ride-hailing produksi massal pada tahun fiskal 2027, demikian laporan dari Nikkei Asia, Rabu (11/03/2026).
Sistem otonom yang dikembangkan Wayve menggunakan pendekatan end-to-end artificial intelligence, di mana AI bertugas memproses data visual dari kamera kendaraan untuk memahami lingkungan sekitar sekaligus mengambil keputusan berkendara secara real time.
Pendekatan ini memungkinkan kendaraan menavigasi berbagai situasi lalu lintas kompleks di perkotaan tanpa memerlukan pemrograman berbasis peta yang sangat detail.
Teknologi tersebut dirancang untuk menghadirkan kemampuan hands-free autonomous driving, sehingga kendaraan dapat melaju secara otomatis tanpa intervensi pengemudi dalam banyak kondisi.
Dalam pengembangan teknologi ini, Wayve juga baru saja memperoleh pendanaan Seri D sebesar 1,2 miliar dolar AS, dengan valuasi perusahaan mencapai sekitar 8,6 miliar dolar AS.
Startup tersebut menyebutkan bahwa total pendanaan dapat mencapai 1,5 miliar dolar AS jika termasuk tambahan investasi berbasis pencapaian (milestone) dari Uber.
Jika kerja sama ini rampung, Uber berencana meluncurkan layanan taksi otonom di Jepang dan beberapa pasar global lainnya dalam beberapa tahun ke depan menggunakan kendaraan yang dikembangkan bersama Nissan dan Wayve.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Uber untuk memperluas layanan mobilitas masa depan yang mengandalkan teknologi tanpa pengemudi.
Saat ini, teknologi kendaraan otonom yang tersedia pada mobil Nissan masih berada pada Level 2, yang berarti pengemudi tetap harus memegang kendali kendaraan dalam situasi tertentu.
Melalui pengembangan teknologi bersama Uber dan Wayve, Nissan menargetkan kemampuan Level 5 autonomous driving, yakni kendaraan yang sepenuhnya dapat berjalan tanpa pengemudi.
Kolaborasi ini juga dinilai sebagai langkah strategis Nissan untuk memperkuat posisinya di industri otomotif global, terutama setelah perusahaan menghadapi tantangan penjualan di beberapa pasar utama.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada Januari 2026, Nissan mencatat penjualan global sebanyak 272.782 unit kendaraan, termasuk model dari merek premiumnya, Infiniti.
Penjualan di Jepang turun sekitar 11 persen menjadi 35.287 unit, sementara penjualan di pasar internasional justru meningkat 2,8 persen menjadi 217.316 unit.
